LAPORAN MINGGUAN PRAKTIKUM BOTANI “BENDA- BENDA MATI DALAM SEL DAN ALAT- ALAT TAMBAHAN TUMBUHAN”
LAPORAN MINGGUAN PRAKTIKUM BOTANI
“BENDA- BENDA MATI DALAM SEL DAN ALAT-
ALAT TAMBAHAN TUMBUHAN”

Oleh:
NIMROD ARRUAN BANGA
NIM. D1B1
17089
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Sel adalah struktural terkecil
dan fungsional dari suatu makhluk hidup yang secara independen mampu melakukan
metabolisme, reproduksi dan kegiatan kehidupan lainnya yang menunjang
kelangsungan hidup sel itu sendiri. Suatu sel dikatakan hidup apabila sel
tersebut masih menunjukkan ciri-ciri kehidupan antara lain melakukan aktifitas
metabolisme, mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungannya, peka terhadap
rangsang, dan ciri hidup lainnya. Suatu sel hidup harus memiliki protoplas,
yaitu bagian sel yang ada di bagian dalam dinding sel. Protoplas dibedakan atas
komponen protoplasma dan non protoplasma. Komponen protoplasma yaitu terdiri
atas membran sel, inti sel, dan sitoplasma (terdiri dari organel-organel
hidup). Komponen non protoplasma dapat pula disebut sebagai benda ergastik.
Benda- benda mati dalam sel biasa juga di
sebut dengan benda ergastik.
Benda argestik adalah bahan non protoplasma, baik organik maupun
anorganik, sebagai hasil metabolisme yang berfungsi untuk pertahanan,
pemeliharaan struktur sel, dan juga sebagai penyimpanan cadangan makanan,
terletak di bagian sitoplasama, dinding sel, maupun di vakuola. Dalam sel benda
ergastik dapat berupa karbohidrat (amilum), protein (aleuron dan gluten), lipid
(lilin, kutin, dan suberin), dan kristal
(kristal ca-oksalat dan
silika). Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa benda ergastik memiliki banyak
fungsi untuk sel, misalnya penyimpanan cadangan makanan, contohnya amilum, pemeliharaan struktur (lilin) dan perlindungan, misalnya adanya kristal ca oksalat dalam suatu
jaringan tumbuhan dapat menyebabkan reaksi alergi bagi hewan yang memakannya,
sehingga hewan tersebut tidak akan bernafsu menyentuhnya untuk yang kedua kali.
Protoplas
dinyatakan, bahwa suatu sel dikatakan mati apabila di dalam lumen sel itu tidak
terkandung lagi protoplas. Di dalam protoplas terkandung protoplasma yaitu
zat-zat kehidupan. Dengan demikian maka benda-benda dalam sel yang
nonprotoplasmik berarti benda-benda yang tanpa zat-zat kehidupan, yang artinya
pula benda mati. Benda-benda mati yang terdapat dalam sel-sel tumbuhan disebut
benda ergas (Ergastic Substances).
Komponen non protoplasmik,
berdasarkan sifatnya dapat dibedakan menjadi cair dan padat. Komponen non
protoplasmik (benda ergastik) yang bersifat cair itu terdapat di dalam vakuola
dan komponen non protoplasmik (benda ergastik) yang lazimnya berbentuk butiran
padat kristal Ca-oksalat, kristal an-organik, butir amilum
dan aleuron.
Pada sel mati tidak dijumpai
adanya organel-organel, di dalam sel hanya berupa ruangan kosong saja. Sel mati
sendiri asalnya dari sel hidup. Sel menjadi mati disebabkan karena berbagai
faktor, misalnya faktor genetik maupun faktor lingkungan. Sedangkan yang akan
dibahas dalam praktikum ini adalah sel mati karena faktor genetik, maksudnya
sel tersebut mati karena telah mencapai umur yang memang telah ditentukan
secara genetik. Sel-sel tersebut memang dalam perkembangannya terspesialisasi
untuk menjadi suatu sel mati, yang memiliki fungsi tertentu dalam bagi
tumbuhan. Misalnya sel-sel xilem-xilem yang akan bersifat mati secara khusus
berguna untuk pengangkutan unsur mineral dari dalam tanah ke daun.
Amilum terdapat dalam plastida yang berupa karbohidrat atau polisakarida
bentuk tepung. Plastida penghasil amilum disebut juga amiloplast. Berdasarkan
letak hilus (titik awal pembentukan amilum), butir amilum dibagi menjadi dua yaitu amilum konsentris (hilus
berada ditengah) dan Amilum eksentris (hilus berada di tepi).
Butiran tepung (amilum) pada umunya berlapis-lapis
(lamella) berbeda kadar airnya berbeda pula aindexs biasnya. Berdasarkan jumlah
hilus dapat membedakan butir tepung. Pada butir tepung tunggal (1 butir tepung
sama dengan satu hilus ) seperti pada kentang. Butir tepung majemuk.
Trikomata atau rambut-rambut merupakan modifikasi
jaringan epidermis berupa rambut-rambut. Trikomata hampir terdapat seluruh permukaan organ tumbuhan,
misalnya pada akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Oleh karena itu,ada
istilah rambut akar, rambu batang, rambu daun dan rambut bunga. Trikomata
dibedakan menjadi trikomata non-glanduler dan trikomata glanduler.
1.2.Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum
kali ini yaitu untuk memberi
pengalaman kepada praktikan dalam menyiapkan preparat untuk pengamatan benda-
benda mati dan bentuknya dalam sel dan bentuk bagian tambahan jaringan tumbuhan
seperti papillae dan tricoma, untuk memberi keterampilan kepada praktikan dalam
mengamati benda- benda mati dan bentuknya dalam sel dan bentuk bagian tambahan
jaringan tumbuhan, serta untuk memberi pengetahuan kepada pratikan terkait
variasi benda- benda mati dan bentuknya dalam sel dan bentuk bagian tambahan
jaringan tumbuhan.
Kegunaan dari praktikum kali ini yaitu
agar praktikan dapat mengenal benda-benda
mati dan bentuknya dalam sel dan bentuk bagian tambahan jaringan tumbuhan, dan
memberi pengalaman kepada praktikan dalam menyiapakan preparat untuk pengamatan benda- benda mati dan bentuknya dalam sel
dan bentuk bagian tambahan jaringan tumbuhan, serta memberi keterampilan
kepada praktikan dalam mengamati dan mendeskripsikan benda- benda mati dan bentuknya dalam sel dan
bentuk bagian tambahan jaringan tumbuhan, dan juga untuk memberi pengetahuan
kepada praktikan terkait variasi
benda- benda mati dan bentuknya dalam sel dan bentuk bagian tambahan jaringan
tumbuhan.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Sel adalah struktural
terkecil dan fungsional dari suatu makhluk hidup yang secara independen mampu
melakukan metabolisme, reproduksi dan kegiatan kehidupan lainnya yang menunjang
kelangsungan hidup sel itu sendiri. Suatu sel dikatakan hidup apabila sel
tersebut masih menunjukkan ciri-ciri kehidupan antara lain melakukan aktifitas
metabolisme, mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungannya peka terhadap
rangsang, dan ciri hidup lainnya. Suatu sel hidup harus memiliki protoplas,
yaitu bagian sel yang ada di bagian dalam dinding sel. Protoplas dibedakan atas
komponen protoplasma dan non protoplasma. Komponen
protoplasma yaitu terdiri atas membran sel, inti sel dan sitoplasma (terdiri
dari organel-organel hidup). Komponen
non protoplasma dapat pula disebut sebagai benda ergastik (Subandi, 2008).
Benda ergastik adalah bahan non
protoplasma, baik organik maupun anorganik, sebagai hasil metabolisme yang
berfungsi untuk pertahanan, pemeliharaan struktur sel dan juga sebagai
penyimpanan cadangan makanan, terletak di baigan sitoplasama, dinding sel,
maupun di vakuola. Dalam sel benda
ergastik dapat berupa karbohidrat (amilum), protein (aleuron dan gluten) lipid
(lilin, kutin, dan suberin) dan kristal
kristal ca-oksalat dan
silika). Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa benda ergastik memiliki banyak
fungsi untuk sel, misalnya penyimpanan cadangan makanan contohnya amilum
pemeliharaan struktur (lilin) dan perlindungan, misalnya adanya Kristal Ca
oksalat dalam suatu jaringan tumbuhan dapat menyebabkan reaksi alergi bagi
hewan yang memakannya, sehingga hewan tersebut tidak akan bernafsu menyentuhnya
untuk yang kedua kali (Priyandoko, 2007).
Aleuron dan kristal putih telur
Ditemukan pada endosperma yang mengering. Prosesnya keringnya biji, yang berarti mengeringnya
endosperm menjadi semakin sedikit sehingga konsentrasi konsentrasi zat-zat yang
terlarut seperti putih telur, garam dan lemak akan semakin besar, kemudian
vakuola pecah hal ini akan terus
berlangsung hingga vakuola pecah menjadi kecil-kecil yang mengandung zat-zat
yang mengkristal yang disebut aleuron.Sebuah aleuron berisi sebuah atau lebih
krsitaloid putih telur dan sebuah atau beberapa guboid (bulatan kecil yang terbuat dari zat fitin yaitu garam Ca dan Mg
dari asam mesoinosit hexafosfor (Adesahy, 2011).
Amilosa merupakan komponen pati
yang mempunyai rantai lurus dan larut dalam air. Umumnya amilosa menyusun pati
17 – 21%, terdiri dari satuan glukosa yang bergabung melalui ikatan (1,4)
D-glukosa. Amilosa juga mempunyai sifat alir dan daya kompresibilitas yang
baik, sehingga dalam formulasi tablet cetak langsung dapat digunakan sebagai
bahan pengisi, lubrikan dan akan memberikan waktu hancur yang lebih efektif.
Sementara amilopektin merupakan komponen pati yang mempunyai rantai cabang,
terdiri dari satuan glukosa yang bergabung melalui ikatan (1,4) D-glukosa dan
(1,6) D-glukosa (Elfi, 2007).
Benda-benda non protoplasmik atau benda-benda mati ini
dalam sel ini dibentuk oleh plastid-plastida, diantaranya oleh amiloplas dan
kloroplas. Lazimnya merupakan tepung-tepung yang dibentuk oleh kloroplas
disebuttepung asimilasi terdapat dalam sel-sel daun, sedang yang dibentuk oleh
amiloplas diebut tepung cadangan yang terdapat dalam alat-alat penyimpanan
makanan, seperti halnya pada akar-akar, umbi biji dan lain-lain. Kadar tepung
kadang-kadang mencapai tingkat yang tinggi, sekitar 20% dari berat keseluruhan,
bahkan dalam biji-bijian kadang-kadang dapat mencapai sekitar 70% dari berat
biji segar (Saifullah, S, 2003).
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1.
Tempat dan Waktu
Kegiatan praktikum ini
dilaksanakan di Laboratorium Unit Agronomi, pada hari Senin 16 Oktober 2017 pada pukul 10:00 – selesai.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan- bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu kacang merah
(Phaseolus vulgaris), kentang
(Solanum tuberosum), ubi jalar ( Ipomoea batatas), jarak (Ricinus commumunis), bayam (Amarantus sp.), bunga telang (Clitoria Ternatea), daun waru (Hibicus tiliaceus), daun durian (Durio zebethinus), dan daun keluwih (Artocarpus commucus).
Alat-alat yang digunakan pada
praktikum ini yaitu buku catatan paraktik, buku gambar ukuran A4, pensil,
silet, balpoin, penggaris, peruncing, penghapus, tisu lensa, lap terbuat dari
bahan kaos bersih atau bahan lainnya yang menyerap air, pipet pasteur, dan tisu
gulung kecil, mikroskop cahaya, dan
kamera.
3.3. Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam
praktikum ini yaitu :
1.
Menyiapkan alat dan bahan
2.
Mengambil
butir- butir amilum pada Arachis hipogeae,
Solanum tuberosum dan Ipomoea batatas, ditetesi air lalu
diamati di bawah mikroskop.
3.
Membuat
irian melintang dari epidermis Ricinus comumuniss
dan batang Amarantus sp., ditetesi
air lalu diamati di bawah mikroskop.
4.
Mengiris
sel- sel epidermis Artocarpus communis
(permukaan atas tajuk bunga), ditetesi air lalu diamati di bawah mikroskop.
5.
Mengiris
sel- sel epidermis (permukaan bawah) dari Durio
zibethinus, Hibicus tiliaceus, ditetesi
air lalu diamati di bawah mikroskop.
6.
Menggambar
semua bentuk sel di bawah mikroskop, atau mengambil gambar via okuler mengguanakan
kamera.
7.
Memberi ulasan hasil praktikum melalui laporan kerja
laboratorium mengenai benda- benda
mati dalam sel, dan alat tambahan.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Hasil
pengamatan pada praktikum “ Benda-
Benda Mati dalam Sel dan Alat Tambahan ” dapat dilihat pada tabel di
bawah ini :
4.1.1. Tabel benda- benda mati dalam sel
|
NO
|
Preparat
|
Struktur sel
|
Jenis Benda
mati
|
|
1.
|
Kacang merah (P. vulgaris)
|
![]() |
1. Amilum
2. Eleuron
3. Kristal Oksalat
|
|
2.
|
Kentang (S. tuberosum)
|
![]() |
1. Amilum
2. Kristal Oksalat
|
|
3.
|
Ubi jalar (I. batatas)
|
![]() |
1. Amilum
2. Kristal Oksalat
|
|
4.
|
Jarak (R. bommunis)
|
![]() |
1. Eleuron
2. Albumin
3. Amilum
|
|
5.
|
Bayam ( Amarantus sp.)
|
![]() |
1. Kristal Oksalat
2. Kristal pasir
|
|
6.
|
Bunga telang (C. ternate)
|
![]() |
1. Kristal Oksalat
2. Amilum
|
|
7.
|
Daun waru ( H. tiliaceus)
|
![]() |
1. Kristal Oksalat
2. Amilum
|
|
8.
|
Daun durian ( D. zebethinus)
|
![]() |
1. Kristal Oksalat
2. Amilum
3. Albumin
|
|
9.
|
Daun keluwih
(A. Commucus)
|
![]() |
1. Amilum
2. Kristal Oksalat
.
|
4.2. Pembahasan
Sel
adalah struktural terkecil dan fungsional dari suatu makhluk hidup yang secara
independen mampu melakukan metabolisme, reproduksi dan kegiatan kehidupan
lainnya yang menunjang kelangsungan hidup sel itu sendiri. Suatu sel dikatakan
hidup apabila sel tersebut masih menunjukkan ciri-ciri kehidupan antara lain
melakukan aktifitas metabolisme, mampu beradaptasi dengan perubahan
lingkungannya, peka terhadap rangsang dan ciri hidup lainnya. Benda-benda mati
dalam sel yang bersifat cair seperti patri, cairan sel, lemak dan
minyak.Benda-benda mati dalam sel bersifat padat seperti Kristal Ca (Co2) 2
atau garam oksalat, Kristal kersik, alauron dan Kristal putih telur dan yang
lebih panjang adalah amilum disebut dengan hilus.
Berdasarkan hasil pengamatan
diketahui bahwa umbi kentang dan ubi jalar setelah diamati oleh mikroskop
terlihat adanya butir tepung amilum
berbentuk amilum eksentris.
Pada umbi I. Batatas, setelah diamati di bawah mikroskop maka ditemukan
adanya butiran amilum yang
berbentuk amilum konsentris. I. Batatas disebut memiliki amilim
konsentris karena hilus yang ada pada butir amilumnya berada di tengah. Amilum
berfungsi sebagai bahan makanan yang masih berbentuk polisakarida.
Pada pengamatan tumbuhan Amarantus sp. Di bawah mikroskop, maka ditemukan adanya kristal
ca oksalat berbentuk jarum dan
kristal pasir. kristal
ca oksalat merupakan hasil
akhir/sekresi dari suatu pertukaran zat yang terjadi di dalam sitoplasma.
Pada pengamatan biji jarak
ditemukan bahwa terlihat endosperma dengan bentuk eleuron dan kristal zat putih telur (albumin). Fungsi dari eleuron adalah yaitu sebagai
cadangan makanan di dlam sitoplasma tumbuhan yang berbetuk butir-butir protein.
Pada pengamatan di bawah mikroskop dari sel-sel epidermis bunga telang, maka ditemukan adanya bentuk Kristal garam oksalat.
Pada pengamatan sel-sel
epidermis permukaan bawah dau waru, durian dan keluwi di bawah mikroskop, maka terlihat bahwa
permukaanya berbentuk Kristal oksalat dan terdapat amilum didalamnya.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dari praktikum
kali ini, maka dapat diberi kesimpulan bahwa benda- benda mati dalam sel berada dalam dua
wujud, yakni berwujud semacam cair dan berwujud padat. Benda berwujud cair
mencakup cairan lemak dan aetheris. Benda berwujud padat terdiri dari dua
bentuk yaitu, kristal garam oksalat (Ca(CO2)2) dan
bentuk aleuron dan kristal zat putih telur. Jenis-jenis benda mati dalam sel
dapat berupa amilum, kristal garam oksalat, eleuro dan zat putih telur
(albumin).
5.2. Saran
Saran saya pada praktikum
kali ini adalah diharapkan kepada setiap praktikan agar menyiapkan semua
hal-hal yang diperlukan dalam praktikum agar praktikum dapat berjalan dengan
baik.
DAFTAR PUSTAKA
Andesahy, 2011. sel-tumbuhan http://adesahy.
blogspot.com.html. Diakses
pada tanggal 17 Oktober 2017.
Elfi, 2007. Studi Awal Pemisahan Amilosa dan Amilopektin Pati Singkong dengan Fraksinasi Butanol-air. Jurnal sains dan Teknologi Farmasi, 11(6) : 63-72.
Priyandoko. 2007. Sitologi. UGM-Press. Yogyakarta.
Saifullah,
S. 2003. Penggunaan
Amilum Sagu Pregelatinizes Sebagai Bahan penghancur
Tablet dengan Bahan Pengisi Yang tidak Larut dalam Air. Jurnal
Bahan Alam Indonesia, 2(4) : 62-67.
Subandi. 2008. Sel-sel
pada organisme multiseluler. ITB
. Bandung.
LAMPIRAN









kakk, gambarnya mana yaa?? ;"
BalasHapus